Sepucuk Surat Dari Balqis
November 9th, 2008 by nukhbatulfikarOleh: windi iskandar
Bismillah
Hembusan angin membelai lembut ranting-ranting serta dedahanan rindang jajaran pohon akasia yang mengelilingi taman ini, membuat desis yang lebih mirip suara bisik dari sekumpulan orang yg sedang bergosip. Yap, mahluk-mahluk jangkung dengan kulit kasar ini sedang menggosipi setiap kehidupan yang ada dibawah teduhnya. Bau amis air danau dan sayup aroma asap sate dari gerobak ala rumah gadang adalah aroma terapi mujarab bagi para member setia taman ini dan aku adalah satu dari mereka.
Puji syukur kampus kami masih memperhatikan kawasan hijau didalam area kampusnya, walaupun tak satu lokasi dengan gedung perkuliahan, tapi taman dan danau ini adalah milik kampus kami. Pihak kampus memberikan nama taman ini dengan “Danau Belajar”. Setidaknya misi mereka berhasil, oleh karena itu tidak mengherankan jikalau dibawah mahluk-mahluk jangkung tadi banyak kelompok-kelompok kecil mahasiswa bertebaran di seluruh penjuru taman, seperti halaqoh ta’lim di Masjid Nabawi. Adapun aku ini hari datang kesini bukan hendak belajar atau diskusi kelompok, lalu untuk apa aku datang kesini? Aku disini tidak berhubungan dengan segala hal yang berbau ilmu dan pelajaran, aku kesini karena suatu hal yang beraroma “roman picisan”
yap! Romantisme salah satu spirit yang di tangkap para mahasiswa dengan adanya Danau Belajar ini… ![]()
Jangan lekas berprasangka buruk kepadaku, aku kesini bukan mau pacaran, bukan pula hendak menunaikan janji dating pertama dengan seorang wanita, apalagi sekedar lirak-lirik tebar pesona gak puguh lagu
disini aku hendak membuka sebuah surat yang sampai pagi tadi ketanganku, sepucuk surat dari seorang gadis yang bernama Balqis.
Pernahkah kita merasa? bahwa sebuah fragmen dalam kehidupan akan terulang dan terulang. Bukannya aku hendak menyamakan diriku dengan Sulaiman -’alaihi salam- yang juga mendapat surat dari Balqis, yap “Serupa tapi tak sama” itulah kata yang tepat, bukan aku tepatnya..!!! tapi pembahasan keserupaan yang tidak sama itu lebih tepat ada di Balqis.
Yang pertama, mereka sama-sama putri dari orang kaya terhormat, bedanya balqis yang itu anak seorang raja yang memiliki “bale” yang terbuat dari emas berukuran kurang lebih 40×20 M/2 dengan ketinggian 15 M yang dibaluti batu-batu mulia seperti intan, yaqut dan zamrud. Balqis yang itu -seperti yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi- salah satu ayahnya adalah seorang jin
. Adapun Balqis yang ini murni putri manusia, ayahnya memang orang terhormat walaupun bukan seorang raja namun ayahnya adalah seorang Kiayi terkemuka sekaligus seorang Dosen yang berada dijajaran guru besar di fakultas Ushuluddin di sebuah Kampus Islam terkemuka. Memang konon rumah beliau cukup megah tapi aku rasa di dalam rumahnya tidak ada bale seperti balenya Balqis, kemungkinan besar disana hanya ada satu set sofa yang biasa digunakan untuk menerima tamu.
Yang kedua, Balqis yang itu menyembah matahari kemudian syaithon memperindah keadaan tersebut sehingga ia berprasangka bahwa ubudiyyah(penyembahan)nya itu benar (haq) sampai menghalanginya dari hidayah, padahal Allah berfirman:
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Tuhan Yang memiliki ‘Arasy yang agung” an-Naml:26.
Balqis yang ini seorang muslimah bahkan walaupun kita tak pernah bertatap muka namun kita sama-sama di HMI, adapun wajah persamaannya adalah, beberapa bulan ini syaitan menghiasi sekulerisme yang menjangkit pemikirannya hingga terlihat lebih indah dan masuk akal baginya, dan point inilah yang menjadikan kami bersinggungan saling berkomunikasi tulisan yang berbuntut ia menitipkan suratnya untukku pagi ini.
Beberapa bulan terakhir ini ia aktif menuliskan artikel yang beraroma sekulerisme di buletin tri mingguan yang diterbitkan HMI, aku membacanya dan memberikan bantahan yang juga diterbitkan dalam buletin yang sama. Puncaknya adalah ketia ia menulis… “Al-Qur’an dan Al-Hadits adalah sumber nilai bagi umat muslim, adapun sumber materi yang akan membangun peradaban umat muslim adalah semua ilmu pengetahuan yang diambil semenjak zaman yunani hingga milenia sekarang ini. Oleh karena itu kita sangat aneh sekali dengan fatwa-fatwa MUI yang mulai menyinggung dunia ilmiah, misalnya fatwa haramnya produk tertentu karena mengandung zat babi, padahal penelitian ilmiah membuktikan kadungan babi pada kadar tersebut tidak membahayakan kesehatan bahkan agama, seperti itu juga fatwa haramnya rokok sebaiknya ditinjau lagi dari beberapa sudut pandang khususnya aspek sosial. Sebaiknya setiap kita sadar akan posisi masing-masing, mana tugas Ulama dan yang mana tugas para ilmuan….”.
Halus namun jelas sekali bagiku pemikiran tersebut adalah tunas yang mulai tumbuh dari benih sekularisme dalam agama yang intinya hendak memisahkan urusan dunia dan agama, agama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesama manusia diatur hanya dengan berdasarkan kesepakatan sosial. Pehaman seperti ini adalah keliru maka aku lekas mengirimkan bantahannya.
Aku memulai bantahanku dengan sedikit filsafat yang aku dapatkan dari hasil belajar dan membaca beberapa kitab ushul fiqih seperti al-Ihkam karya al-Amidiy, al-Mushtasyfa-nya Iman al-Gozali dan Roudhotu an-Nadzir-nya Ibnu Qudamah sebagai silabus resmi fakultasku. “Sangatlah keliru” tulisku, “mereka yang memisah sumber-sumber untuk menetapkan kebenaran nilai dan materi. Al-Qur’an dan Al-Hadits adalah puncak terakhir didalam menentukan kebenaran. Tahukah anda bahwa kebenaran (ilmu) yang yakin (pasti) hanya dapat kita ketahui dari berita (kabar/khobar) yang mutawatir(1), maka untuk menentukan kebenaran yang yakin jika selain berita yang mutawatir harus dibutuhkan pembuktian ilmiah. Berbeda dengan pendapat para ilmuan yang sekuler pada zaman sekarang ini, mereka menganggap kebenaran yang yakin hanya bisa ditentukan oleh panca indera lewat penelitian-penelitian dan percobaan. Mereka tidak percaya syurga dan neraka, tidak percaya adanya ruh karena hal-hal tersebut tidak bisa di inderai oleh panca dan tidak bisa dibuktikan oleh penelitian ilmiah. Naudzubillah, mereka belajar ilmu pengetahuan namun meninggalkan agama, bukankah banyak ilmu yang yakin yang tidak di inderai oleh kita? Apakah keyakinan kita tentang seribu itu lebih besar dari satu dan keyakinan kita tentang kemustahilan bersatunya dua unsur yang berlawanan dilandasi oleh indera kita? Pernahkah kita membuktikannya lewat penelitian?. Siapa yang tidak yakin bahwa dibelahan bumi sana ada negeri yang bernama Mekkah, Amerika, dan lainnya, bahkan generasi kakek kita yang belum ada televisi dan sarana komunikasi lainnya meyakini kebenaran adanya negeri-negeri tersebut. Pertanyaannya dari mana mereka meyakininya? Jelas dari berita-berita yang mutawatir. Sebaliknya pembuktian lewat panca indera melalui penelitian dan percobaan tidak memberikan kebenaran yang yakin karena dibangun diatas asumsi dan dugaan-dugaan semata. Seorang dokter membantah ia berkata: bagaimana mungkin itu hanya asumsi dan dugaan? Karena kami telah melakukan penelitian dan terbukti, contohnya kami telah melakukan penelitian terhadap beberapa sampel, bahwa jika trombosit mereka tinggi pada kadar tertentu berarti mereka terjangkit demam berdarah, oleh karena itu kami berpendapat seperti itu pada setiap orang dengan kasus yang sama”, tulisku memberikan ilustrasi diskusi.
“Metode yang dilakukan oleh dokter tersebut berarti adalah qiyas, sampel pertama disebut hukum asli, adapun kasus yang disamakan adalah hukum cabang,adapun illah atau sebabnya adalah trombosit yang tinggi dst. Yang perlu diketahui adalah bahwa qiyas adalah sebagai sumber kebenaran yang ke empat setelah Ijma’ dan setelah tidak didapatkan didalam Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai sumber yang pertama” bantahku melengkapi ilustrasi diatas.
Kemudian aku menuliskan juga beberapa jenis qiyas, syarat dan rukunnya, tak lupa aku membantah tuduhannya terhadapap fatwa MUI serta aku jelaskan juga metode fatwa mereka secara ringkas padat. Dipenutup aku tuliskan nasehat dan ajakan yang menyiratkan agar ia rujuk kepada pemahaman yang benar, aku menulis “Hasil Munas VII MUI 2005 mengeluarkan fatwa no: 7/MUNAS VII/MUI/11/2005 bahwa Pluralisme, Sekularisme dan Liberaisme agama sebagaimana yang dimaksudkan MUI adalah paham yang bertentangan dengan ajaran Islam dan Umat islam haram mengikutinya”.
“Al-Qur’an dikabarkan secara mutawatir hingga sampai ketelinga kita, apa yang kita dengar dari al-Qur’an adalah sama seperti yang didengar Rosulullah s.a.w dari malaikat Jibril. Dan apa yang kita baca dari al-Hadits yang mutawatir baik redaksi dan maknanya adalah sama seperti yang didapatkan para sahabat dari Rosulullah s.a.w, lalu hal apa yang membuat kita berani begitu lancangnya menghalalkan sesuatu yang telah jelas diharamkan oleh Allah dan Rosul-Nya?
Agama ini tidak sekaku yang banyak diperasangkakan orang. Agama ini memberikan peluang bahkan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, silahkan jadi dokter, jadi fisikawan, matematikis, psikiater atau yang lainnya namun timbangan kebenaran kita adalah tetap al-Qur’an dan as-Sunnah jika memang telah jelas disebutkan didalamnya, adapun yang didiamkan maka itulah ruang kita untuk berijtihad dengan ilmu pengetahuan kita.
Allah berfirman:
“andaikan kebenaran itu menurut hawa nafsu mereka, pasti rusaklah langit dan bumi ini, dan semua yang ada didalamnya…” al-Mukminun:71
Rosulullah bersabda ketika sahabat mempersoalkan tentang kebolehan mencangkok korma: “saya tidak menduga hal tersebut bermanfaat sehingga dapat mengeluarkan sesuatu, jika itu bermanfaat bagi mereka maka lakukanlah, karena sesungguhnya aku hanya menduga maka jangan salahkan aku karena menduga, akan tetapi jika aku berbicara pada kalian atas nama Allah tentang sesuatu maka ambilah oleh kalian sesuatu itu” diriwayat yang lain “kalian lebih tahu dengan urusan dunia kalian”(2).
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi…“al-Qoshos:77.
Wallahu A’lam” ku khatamkan tulisanku, segera aku mengeditnya sebagai finishing kemudian kukirimkan soft datanya ke redaksi buletin.
¤¤¤
Aroma sate semakin membuatku lapar, biasanya aku langsung makan siang setelah sholat dzuhur selepas jam perkuliahan. Namun aku memilih segera ke taman ini, aku takut makananku tidak menjadi daging karena aku tidak konsentrasi saat makan sebab surat ini. Aroma sate semakin menjadi-jadi walaupun aku telah meyakinkan bahwa aku tidak akan membelinya, tidak hari ini dan tidak pula setelahnya, karena bagi mahasiswa sepertiku, irit pangkal hemat haruslah menjadi sifat yang lazim dan mengikat
.
Kubuka perekat suratnya yang tidak begitu kuat merekat. Surat yang bersampul hijau muda ini sampai kepadaku tadi pagi lewat temanku Syadid. “Di…ini ada amanah yang dititipkan untukmu” katanya pagi tadi.
“Dari siapa did? Tanyaku penasaran,
“dari adikku, kata dia itu surat dari Balqis untukmu..”
Farhah adalah adiknya Syadid, ia junior Balqis di fakultas kedokteran kampusnya, juga junior di LDK kampus serta di Ma’had Khusnul Khotimah tempat mereka menghatamkan jenjang SMP dan SMA.
Aku ambil kertas yang terlipat rapih didalam amplop hijau muda tersebut, kertas biasa tanpa warna-warna yang mencolok juga tidak beraroma apa-apa. “Ini pasti bukan surat cinta…!” batinku, penasaran.
“Assalamu’alaikum,Yang terhormat Akhi Abdul Hadi, -hayyakallah-.
Bismillah,
Dengan datangnya surat ini maka ketahuliah bahwasannya aku telah rujuk kepada pemahaman islam yang benar dan telah aku taubati segala kelancanganku terhadap Al-Qur’an serta tulisanku yang keliru.
Alhamdulillah baru kemudian terima kasih banyak atas bantahan-bantahan kamu selama ini yang membuat aku kembali rajin mengkaji pemikiran para ulama hingga mendapatkan hidayah. Aku berharap komunikasi ilmiyah kita selama ini tidak berhenti disini dan terus berjalan walau bukan lagi untuk saling bantah-bantahan
, dan satu hal yang sangat tidak ilmiyah yang ingin aku sampaikan kali ini adalah… Aku merasa bahwa aku tertarik sama kamu….
wassalam.
Dari saudarimu Balqis.
segera kulipat surat itu dan kumasukan kedalam amplopnya, aku agak sedikit tegang dengan kalimat terakhir surat itu sampai-sampai membuat perutku terasa lapar, dan tidak ada kalimat yang terngiang didalam neuro net-ku kecuali yang terakhir tadi. Segera kumasukan kedalam tas sambil tanganku mencari-mencari sesuatu yang lain didalam sana. Sebuah buku saku berjudul “Diwan al-Imam as-Syafi’iy” kuambil keluar, buku kecil ini semacam buku panduan sikap dalam berinteraksi sosial, kubuka halaman yang kumaksudkan, adapun neuru net dikepalaku terus bekerja dengan cepat sekali membuat bayangan-bayangan selintas, salah satu bayangan tersebut adalah bayangan betapa indahnya jikalau aku dan balqis bisa rutin berdikusi dibawah pohon didanau ini…astaghfirullah…,
سل المفتي المكي من آل هاشم
إذا اشتد وجد بامرئ كيف يصنع؟
يداوي هواه ثم يكتم وجده
ويصبر في كل الأمور ويخضع
فكيف يداوي والهوى قاتل الفتى
وفي كل يوم غصة يتجرع
فإن هو لم يصبر على ما أصابه
فليس له شيء سوى الموت أنفع
Dikisahkan didalam diwan tesebut seorang pemuda bersyair bertanya kepada Imam Syafi’iy:
“tanya kepada mufti mekkah dari keluarga Hasyim,
jika rindu pada seseorang menggelora apa yang harus diperbuat?
Imam menjawab:
“obati hawa nafsunya kemudian sembunyikan rindunya,
dan sabar pada setiap hal serta tenangkan”Pemuda bersyair lagi:
“bagaimana ia mengobatinya sedang hawa nafsu hendak membunuh sang pemuda,
dan setiap hari perlahan mencekik sesak”.
Imam Syafi’iy menjawab:
“jika ia tidak mau sabar dengan apa yang menimpanya,
maka tidaklah ada baginya yang lebih baik kecuali kematian”.
Sesaat kuterpekur, lalu kumasukan diwan kedalam sakuku sambil berdiri meninggalkan tempat dudukku, disetiap langkahku adalah jaringan otak yang berdiskusi, dan diantara banyak bayangan-bayangan dikepalaku tadi aku mendapat suatu bayangan tentang syair diatas, bagaimana jika syair itu ku tulis dan kujelaskan maksudnya di buletin tri bulanan HMI, berharap Balqis membacanya dan menganggap itu sebagai sikapku terhadap suratnya.
“krukkngkk…” bunyi suara dari dalam perutku, seakan ia menagih hak yang telah diberikan Allah kepadanya, membuatku bergegas meluncur meninggalkan taman….
1. Mutawatir: kabar/berita yang diriwayatkan oleh banyak orang yang menurut kebiasaan mustahil mereka bersepakat didalam kebohongan.
2. Imam Nawawi, Sarhu Sohih Muslim, juz 8 hal 85.
NB: selain al-Qur’an, al-Hadits, nama para ulama, pendapat dan kitab mereka adalah hanya sebuah imaginasi, maka jika ada nama atau tempat yg sama maka dimohonkan maafnya
